Wild Love Episode 80A

Kawat yang aku tarik juga ikut menarik penyumbat karet

Royal Win Indonesia Entertainment – Wild Love Episode 80A, segera aku berlari kembali ke arah mereka yang sudah menyalakan mesin mobil. Ketika mobil itu berjalan aku kemudian melompat terbang. Tepat ketika mobil itu berjalan aku berhasil menarik kawat yang telah aku hubungkan dengan penyumbat pada lubang tangki bensin mobil itu. ya, sebelum aku masuk aku melubangi tangki bensin mobil ayahku, aku sudah persiapkan semuanya sebelum berangkat ke gedung Casino De Granny ini. mencoba mempelajari mobil yang di kendarai ayah dan letak tangki bensin mobilnya. Aku melubangi tangki tersebut dan kemudian menyumbatnya. Sumbat kemudian aku hubungkan dengan sebuah kawat yang aku ikatkan pada sebuah paku di belakang mobil. Kelemahannya hanya pada kawat tersebut, kawat terlalu pendek jika tidak aku pegang pasti tidak akan melepaskan penyumbat bensin tersebut.

Kawat yang aku tarik juga ikut menarik penyumbat karet hingga terlepas. Aku yang berada di belakang mobil dalam kondisi tengkurap tersenyum. Aku berdiri melihat mobil yang mengalirkan bensin tersebut berjalan.

“HEI!”

teriakku dengan senyum sembari mengeluarkan sebatang dunhill mild dan korek api.

Mungkin aneh bagi mereka melihat orang yang mengejarnya berhenti mengejar. Mobil tersebut sempat berhenti dan tampak ayah mengacungkan jari tengah ke arahku.

“this is my theater…”

ucapku lirih, setelah aku menyulut dunhill mild, aku dekatkan korek api itu ke arah bensin yang tercecer.

Whugggg…. sebuah kobaran api langsung menyala dan berlari ke arah mobil ayah yang hendak kembali berjalan.

“Wherever you will go, fire always love you”

ucapku sembari mengeluarkan asap melihat api yang semakin mendekat ke arah mobil itu.

Mobil bergerak namun baru beberapa meter mobil tersebut berhenti. tampak dua pintu depan mobil terbuka, ayah dan om nico sudah berada di luar dan berusaha menjauhi mobil yang di tungganginya. Baru saja mereka berlari kurang lebih 5 meter dari mobil tapi sayang api terlalu mencintai mereka.

“Avra ka davra…”

ucapku lirih dan.

DHUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAR …

Aku melihat api itu tampak tersenyum

Sebuah ledakan besar tak jauh dari hadapanku mungkin sekitar 15 meter dari tempatku berdiri. Dua tanganku menutupi wajahku, tubuhku sedikit terhempas kebelakang. Dari sela-sela kedua tanganku aku melihat bayangan dua orang terpental. Satu orang terpental ke arah kanan dan seorang lagi terpental ke arah kiri. Mereka berdua terpental jauh, yang aku harapkan hanya satu mereka masih hidup. Beberapa saat setelah ledakan pertama masih terjadi ledakan kedua dan ketiga namun ledakan kedua dan ketiga hanya ledakan kecil dari mobil tersebut.

Walau tubuhku terhempas kebelakang aku masih bisa menjaga keseimbanganku. Aku buka kedua tanganku yang menutupi pandanganku ini, dengan sebatang dunhill mild masih terselip di antara kedua jari tangan kiriku. Aku melihat api itu tampak tersenyum, berkobar-kobar mencoba menggapai langit malam. Walau terangnya api ini tidak seterang mentari yang bersinar kala siang tapi cukup membuat sekitar tempat itu terlihat sangat jelas. Panasnya lebih panas dari terik matahari di siang hari, karena api yang berkobar lebih dekat dari mentari. Aku langkahkan kakiku mendekati mobil itu, sebuah pintu depan mobil terlihat sudah tidak tergeletak tak jauh dari mobil tersebut.

“ughh… tolonghhh…..”

sayup-sayup rintih seorang lelaki, aku mendengarnya, sedikit rasa iba tapi aku tak mempedulikan rasa iba itu.

Kuseret tubuhnya ke arah satu orang lagi

Aku kemudian berjalan ke kiri mobil tak jauh dari mobil tersebut ku temukan seorang lelaki yang sering aku sebut sebagai om nico. Tampak dia mengaduh kesakitan tapi aku tidak mempedulikannya. Aku tarik kerah bagian belakang lehernya, kutarik dengan kasar. Kuseret tubuhnya ke arah satu orang lagi yang sebelumnya aku lihat mencoba untuk bergerak. Dengan langkah sedikit berat sisi batinku merasa sedikit lebih senang malam ini.

Rasa senang karena telah mengakhiri perjalanan dari seorang maestro kejahatan di daerahku. Berjalan melewati belakang mobil yang terbakar dengan rintihan minta tolong dari om nico. kebenaran adalah akhir dari sebuah kekejaman, tapi entahlah apakah yang aku lakukan ini benar atau salah. Yang jelas aku hanya ingin mengakhiri perjalanan dari para maestro kejahatan ini. Kulihat tubuh ayah yang mencoba menyeret tubuhnya dari tempat dia terjatuh. Aku menghempaskan tubuh om nico di dekat tubuh ayah. Suatu pemandangan yang aneh emang ketika aku melihat itu semua.

Dua orang lelaki yang kesehariannya hanya menebar ancaman kesana-kesini. Sekarang sedang tergolek lemas dan hancur di hadapanku.

“Arya tolonghhhh ayah… ughh… ayo nak tolonghhh ayah nak…”

ucap ayahku.

“kenapa? kamu takut ya? tenang saja aku tidak akan membunuhmu…”

ucapku sembari melangkah dan mendekati mereka berdua.

Tanganku masuk kedalam saku rompi yang aku pakai. Dengan posisi setengah berjongkok di tengah-tengah mereka, aku tersenyum.

“Kalian bunuh KS, kepala pembantu di Rumah Eri, kalian juga kan yang membunuh kakek Tian…”

ucapku dengan pandangan penuh amarah.

“aghh… tolonglah nakhhh ayah khilaf…”

ucap ayahku.

“Khilaf? Itu juga kan yang kalian katakan kepada Ibu dan tante ima ketika kalian memperkosa mereka di hotel? Dan tanpa kalian sadari, salah satu dari kalian telah menghadirkan seorang lelaki yang menghentikan langkah kalian sekarang ini bukan?”

ucapku.

“erghh… dasar kamu bajingan!”

ucap ayah.

“bunuh saja kami! erghhh…”

ucap om nico.

“Ha ha ha ha ha biasanya kalian tertawa seperti itu kan? Kenapa sekarang menyerah pada kematian? membunuh kalian ya? hmmm…. tidak, aku tidak ingin membunuh kalian… terlalu dini membunuh kalian sedangkan banyak yang kalian buat menderita hingga bertahun-tahun lamanya”

ucapku.

“apa maumu sebenarnya? Segera habisi kami”

ucap ayah.

“Ayah… ayah… masih ingat ini?”

ucapku sambil memegang kalung berbandul giok dengan seekor kerbau didalamnya.

Mata mereka berdua terkejut ketika melihat benda itu. ketakutan mereka terpancar dari wajah mereka yang dihiasi oleh karbon-karbon dan juga darah.

“erghh.. itu…”

ucap ayah.

“ya, ini milik nenekku dan kakekku, kakek Wicaksono dan nenek mahesawati. Kalian pasti terkejut karena aku mendapatkan ini kan? Kalian tahu apa yang telah kalian perbuat kepada mereka? hingga mereka harus tinggal di gubuk tua tanpa ada yang merawat? KALIAN HARUS MERASAKAN HAL YANG SAMA DAN HARUS LEBIH SAKIT LAGI DARI MEREKA!”

ucapku diakhiri dengan bentakan, air mataku mengalir dipipiku mengingat bagaimana kakek dan nenekku meninggal dipelukanku.

“kalian kan hiks yang membuat mereka menderita, ini belum seberapa dibandingkan apa yang mereka rasakan karena ulah kalian!”

ucapku.

“oh ya ayah… aku akan tetap memanggilmu ayah tenang saja, aku hanya ingin mengatakan satu hal. Di daerah ini hanya akan ada satu kerbau dan itu adalah aku! Ingat baik-baik! Ha ha ha ha…”

ucapku sambil tertawa.

“kalian membuat semua orang menderita ibu, tante ima, KS, mbak erlina, eri, rani, kakek, nenek dan dian.. ah dian…”

ucapku tiba-tiba teringat kembali dengan dian.

Kalung yang aku genggam langsung aku pakai leherku, aku tarik baju mereka dan aku seret. Langkahku semakin cepat menuju ke dalam gedung, dian… aku mohon jangan sampai dia pergi. Dian, tunggu dian.

“Argh… lepaskan kamihhh…. ”

ucap ayah.

“bunuh saja kami…”

ucap om nico.

“DASAR BAJINGAN! KALIAN DIAM!”

bentakku.
Royal win indonesia entertainment | Jucy Dream | Wild Love
Royal Win Indonesia Entertainment salah satu website entertainment yang menyajikan cerita dewasa terlengkap dan terpopuler
Pages: 1 2 3

You may also like...

3 Responses

  1. Irwan berkata:

    Kelanjutan dari wild love kok lambat boss

  2. Irwan berkata:

    Kelanjutan dari wild love kok lama bosss

  3. Irwan berkata:

    Kelanjutan dari wild love mana nih,nanti lupa