Wild Love Episode 50
Aku mulai mengetahui kelakuan ayah
Royal Win Indonesia Entertainment – Wild Love Episode 50, Kini aku sudah dirumah, ibu tidak ada dirumah apalagi ayahku. Ibu sudah aku kabari kalau KKN-ku sudah selesai namun ibu masih harus di rumah kakek. Ayah, entalah apa yang dia pikirkan dan lakukan sekarang. Hari demi hari sudah aku lalui, kadang aku tersenyum kadang aku malu. Ingatanku kembali ketika aku pertama kali dengan Ibu, kemudian tante ima, mbak maya, tante wardani, mbak erlina, mbak echa, mbak ela dan terakhir adalah ajeng. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku mengingat semua kejadian yang telah terjadi. Aku duduk termenung dan senyum-senyum sendiri di pinggir tempat tidurku. Ingatanku pun kembali ke masa dimana aku mulai mengetahui kelakuan ayah, bagaimana dia dan om nico memperlakukan tante war dan juga orang-orang disekitarnya. Kakek wicaksono dan nenek mahesa pun masuk kedalam ingatanku. Mbak erlina anak dari KS, mbak ara anak dari si buku. Aneh juga kan? Seiring berjalannya waktu aku semakin menemukan banyak petunjuk.
Pada saat langit berwarna pelangi
Seribu doa terucap
Di cermin darat untuk sang rembulan
Sudah aku pecahkan, dan aku sudah tahu tempat cermin darat untuk sang rembulan, adalah sebuah danau. Jika benar, mereka akan bertemu di malam tahun baru tepatnya di perumahan ELITE tempat dimana arghhhh kenapa harus nama itu kembali muncul.
I’m on my way I’m on my waaaaay home sweet home. Ringtone sematpon. Ibu.
Ya bu
kamu sudah pulang nak, maaf ibu tetap dirumah kakek sampai besok minggu. Bagaimana KKN kamu?
baik, bu. Ndak papa bu asal ibu aman disana
Kepingin ndak?
Eh… ndak bu
dapat ya disana?
Ibu maaf
ndak papa, yang penting kamu tidak menjadi penjahat saja hi hi hi
ndak lah bu
ya sudah, ibu mau kumpul-kumpul lagi sama pakdhe dan tante kamu mereka semua ada disini. Oh iya dia lagi perjalanan dinas selama dua bulan sampai besok minggu depan, wong pas ibu minta ijin malah dia yang nyaranin ibu suruh keruma kakek hi hi hi
iya bu, salam buat mereka. Begitu ya bu, baguslah kalau begitu rumah ini jadi damai
iya iya, lebih damai lagi kalau ada ibu kan?
iya sih he he he
dah dulu ya sayang, dadah sayang muach
muach juga
Hanya memikirkan jalan
Hari berganti, sejak aku tiba hari senin di rumah. Tak ada yang aku kerjakan selain tidur, bangun, makan nonton TV dan sedikit bokep. Indah dan enak bukan, semua tersedia dirumah, aku sekarang menjadi anak rumahan seperti yang lainnya. Tak pernah aku membuka BBM-ku kecuali ada pesan masuk, sekalipun ada pesan masuk aku hanya membalas seperlunya saja dan tak pernah aku membuka update status dari kontak-kontak BBM-ku. Malas! Kalau harus membaca namanya. Aku sadar aku salah, tapi aku sudah bertekad untuk berhenti berharap dan mundur!
Hingga di sabtu pagi ini aku keluar untuk membeli rokok. Maklumlah sehari bisa satu bungkus dunhill karena tidak ada kerjaan dan hanya bermalas-malasan saja. Menunggu ya hanya itu yang aku bisa lakukan, tak ada informasi tambahan dari email dan sematpon KS yang membuatku tak bisa bergerak lebih jauh lagi. Aku hanya memikirkan jalan supaya aku bisa berada di danau itu untuk mengetahui siasat mereka.
“berapa bu?”
ucapku di depan warung.
“17.200 mas”
ucap ibu warung.
Ku ambil dompetku, ku buka uangku hanya 17.000,-. Di dompetku ada saku kecil dengan penutup perekat yang sudah lama sekali tidak pernah aku buka. Ketika aku buka bukannya menemukan uang malah menemukan kalung monel dan sebuah gantungan cincin. Aku malah bingung, kenapa ada kalung dalam dompetku.
“Bu kurang dua ratus nanti aku balik lagi ndak papa ya bu?”
ucapku.
“Ya ndak papa, biasanya juga beli disini kok ya bisa kurang to mas?”
ucap ibu warung.
“Hehehe biasa bu, lagi ndak dapat uang saku”
ucapku.
Memandangnya setelah sekian lama
Wild Love Episode 50, Aku kemudian kembali ke rumah, dengan sejuta pertanyaan tentang kalung ini. entah ini kalung siapa, aku hanya memandangnya ketika aku duduk di meja komputerku. Tak pernah aku ingat, kalung ini milik siapa. Kuletakan kalung itu di atas meja komputerku. Hingga malam menjelang karena tak ada pekerjaan a papun aku kemudian pergi ketempat dimana aku bisa melihat rembulan. Tempat dimana aku mengajak ibu dan bu di… arghhh… ku tancap gas dan sampailah aku disini.Lalu aku duduk di bangku yang biasa aku duduki. diujung bangku dengan sekaleng W&A dan dunhill menemani kesendirianku di royalwinindonesia.
“Ar….”
ucap seorang wanita.
Aku menoleh ke arah suara itu. Aku memandangnya setelah sekian lama aku tak berjumpa dengannya. Hanya suaranya yang terakhir aku dengar dari dalam telepon ketika aku memutuskan untuk menjadi mahasiswa yang baik. Ya dia bu dian.
“Eh….”
ucapku terkejut.
“Boleh aku duduk”
ucapnya pelan.
“Silahkan bu, saya juga sudah selesai kok”
ucapku sambil berdiri.
“Saya pulang dulu bu, silahkan dipakai bangkunya”
ucapku tersenyum kepadanya dan kemudian melangkah pergi membelakanginya.
“AKU MOHON JANGAN PERGI LAGI! AKU MOHON! Aku tidak ingin berpisah denganmu lagi untuk waktu yang lama, sudah cukup bagiku sekali saja berpisah darimu dan melihatmu menghilang dari kaca jendela bis. AKU MOHOOOOOOOOOOOOOOON ARYAAAAAAAAAAAAAAAAAA hiks hiks hiks hiks hiks hiks”
ucapnya terisak, ucapannya membuatku berhenti melangkah.
“jangan pergi lagi hiks hiks hiks jangaaaan hiks hiks hiks aryaaaa hiks hiks hiks”
isaknya.
“Bis?”
bathinku.
Aku menoleh ke arah wanita yang terduduk dengan kedua kakinya menekuk kebelakang. Wajahnya tertunduk melihat kelantai jalan ini. Kedua tangannya menutupi wajahnya, dapat kulihat air mata mengalir dari sela-sela jarinya dan menetes kebawah. Ingatanku kembali kemasa itu, masa di mana aku.
Simak juga cerita lainnya hanya di Royal Win Indonesia Entertainment.
